Pemasangan
Tentang // Tantangan
Pengalaman multisensorik membantu kita memahami dunia di sekitar kita. Pengalaman tersebut menancapkan kita pada waktu dan tempat tertentu. Rasa, suara, dan aroma membantu kita mengingat, dan sering kali menentukan kualitas ingatan kita. Indra-indra kita membantu kita mengambil keputusan.
Ruang kebijakan iklim multilateral tidak mendorong keterlibatan multisensorik. Penelitian terbentuk dalam bentuk laporan atau memo; dan keputusan mengenai cara pengelolaan atau ekstraksi sumber daya alam bergantung pada data satelit. Kelompok masyarakat, terutama para pembela dan sekutu masyarakat adat, diminta untuk meninggalkan sejarah lisan dan ingatan kolektif di ambang tempat pengambilan keputusan berbasis data dilakukan. Namun, apa yang akan kita temukan jika cara-cara mengetahui ini dihargai sebagai mitra yang setara?
Tonton trailernya:
https://www.youtube.com/watch?v=60md2K6s1tI
Intervensi Kami
Instalasi ini menyajikan beragam kumpulan data melalui berbagai media. Dengan mengeksplorasi tema-tema [konservasi, pengelolaan] ini di berbagai layar dan speaker, sebuah triptych video dengan suara surround mampu menyatukan beragam kumpulan data yang belum pernah ditampilkan bersama sebelumnya. Penyatuan ini menawarkan titik-titik koneksi dan pemahaman baru sebagai pelengkap laporan berbasis data dan intervensi teknologi.
Sedangkan prototipe data adalahkomponen teknologi untuk advokasi, instalasi inimerupakan karya pendamping budaya yang dapat ditayangkan di tempat-tempat yang berfokus pada iklim, pendidikan, dan komunitas.
Instalasi triptych ini dipamerkan di Desa Mekar Raya pada 18 Februari 2025, dilanjutkan dengan sesi tinjauan dan umpan balik bersama para perempuan, pemuda, dan sesepuh. Foto: Michelle Cheripka.
Tentang Video(s)
Instalasi ini berpusat pada mitos leluhur ular suku Dayak, Nabau—yang dihidupkan kembali melalui kolaborasi dengan animator Prancis-Indonesia Laura N-Tamara dan seniman CGI asal Jepang Masaya Inaba.
Mitos ini menceritakan kisah undangan Nabau kepada manusia pertama untuk datang dan membangun rumah di Mekar Raya, serta bagaimana tanah ini menjadi tempat penyembuhan fisik dan spiritual. Melalui wawancara dan sejarah lisan, kami menggunakan data kualitatif ini sebagai landasan bagi kumpulan data lain yang dikumpulkan dan dikembangkan di sekitar desa Mekar Raya.
Motif tradisional Dayak berwarna merah dan hitam digunakan untuk menggambarkan Nabau, leluhur ular Mekar Raya. Ilustrasi: Laura Nasir-Tamara.
Langkah Selanjutnya
Pada tahun 2026, kami akan kembali ke Mekar Raya untuk menyelenggarakan pemutaran film bersama anggota masyarakat, termasuk People's Conservation Summit yang dijadwalkan pada bulan Agustus di Bogor, Indonesia. Kami juga akan menyelenggarakan pemutaran cuplikan film di Rotterdam; Los Angeles; serta dalam rangkaian Climate Weeks di New York dan Bangkok.